RESUME
PROFESI KEGURUAN
Oleh:
Nama : Ni Gusti Ayu Alet Irmawati (131 111 17)
Ni Ketut Susi Susanti (131 111 31)
Desak Ketut Patmawati ( 131 111 )
Kelas : Pendidikan (IIIa)
KEMENTRIAN
AGAMA REPUBLIK INDONESIA
SEKOLAH
TINGGI AGAMA HINDU NEGERI GDE PUDJA MATARAM
2014
GURU FROFESIONAL DAN PENCIPTAAN
IKLIM
BELAJAR YANG KONDUSIF
A
. Pendahuluan
Guru
adalah seorang pendidik, pembimbing, pelatih, dan pemimpin yang dapat
menciptakan iklim belajar menarik, aman, nyaman, dan kondusif dikelas, keberadaannya
ditengah-tengah siswa dapat mencairkan suasana kebekuan, kkaekuan, dan
kejenuhan belajar yang terasa berat diterima oleh para siswa. Lingkungan
belajar yang aman, nyaman dan tertib, optimisme merupakan harapan yang tinggi
bagi seluruh warga sekolah, kesehatan sekolah, serta kegiatan-kegiatan yang
terpusat pada peserta didik merupakan iklim yang dapat membangkitkan gairah,
semangat, dan nafsu belajar.
Lingkungan
belajar harus mendapat perhatian yang besar, karena lingkungan mempengaruhi
situasi belajar. Siswa tidak akan merasa
nyaman, aman, dan tentram belajar manakala kondisi lingkungan yang tidak
mendukung, seperti letak sebuah sekolah, kebersihan sekolah, sirkulasi udara,
tata ruang, dan suasana ruang belajar. Oleh sebab itu hindarilah membangun
sekolah didekat desingan suara mesin yang ribut, pasar, dan jalan raya yang
sibuk. Kemudian memperhatikan kenyamana ruangan dengan menanamkan pohon-pohon
pelindung disekitar sekolah, menata ruang belajar yang menarik dan
menyenangkan. Tempat duduk siswa dapat diubah sesuai dengan tujuan dan metode
pembelajaran yang digunakan.
B.Mengembangkan layanan belajar
Lingkungan
yang kondusif menurut mulyasa (2005: 16-17) dapat dikembangkan melalui berbagai
layanan sebagai berikut:
1. Memberikan
pilihan bagi peserta didik yang lambat maupun yang cepat dalam melakukan tugas
pembelajaran.
2. Memberikan
pembelajaran remedial bagi peserta didik yang kurang berprestasi, atau
berprestasi rendah.
3. Mengembangkan
organisasi kelas yang efektif, menarik, nyaman, dan aman bagi perkembangan
potensi seluruh peserta didik secara optimal.
4. Menciptakan
kerja sama saling menghargai, baik anatar peserta didik maupun antara peserta
didik dengan guru dan pengelola pembelajaran lain.
5. Melibatkan
peserta didik dalam proses perencanaan belajar dan pembelajaran.
6. Mengembangkan
proses pembelajaran sebagai tanggung jawab bersama antara peserta didik dan
guru, sehingga guru lebih banyak bertindak sebagai fasilitator, dan sebagai
sumber belajar.
7. Mengembangkan
sistem evaluasi belajar dan pembelajaran yang menekankan pada evaluasi diri
sendiri atau self evaluation.
Beberapa
strategi untuk merangsang peserta didik belajar dalam iklim yang kondusif
diantaranya:
1. Saling
lempar pertanyaan
Setiap
siswa diharuskan menyiapkan pertanyaan tentang maeri pelajaran yang
dipelajari,dan melemparkan pertanyaan terhadap temannya.
2. Mencari
jawaban
Diminta
siswa menulis tiga pertanyaan atau lebih mengenai suatu topik diatas secarik
kertas. Seluruh siswa dikelas dan guru boleh menjawab jika perlu.
3. Pertanyaan
maraton
Tentukan
kelompok untuk berpasangan.buat pertanyaan setelah waktu yang diberikan untuk
menjawab habis ajaklah pasangan untuk bertukar peran. Setelah pelatihan ini,
seluruh siswa dikelas bersama dengan guru, dapat menjawab pertanyaan yang belum
terjawab.
4. Pertanyaan
yang ditempelkan
Bagikan
beberapa kertas tempel besar, dan minta siswa menuliskan pada setiap kertas itu
satu pertanyaan mengenai materi pelajaran. Teman-teman sekelas dan guru boleh
menambah jawaban jika perlu. Setiap pertanyaan yang masih tertinggal dipapan
setelah pelatihan dapat dijawab oleh guru.
5. Bola
pertanyaan
Bagikan
kepada setiap siswa selembar kertas kosong. Mintalah setiap siswa menulis
pertanyaan pada kertas itu. Lalu guru mengajak siswa meremas kertas itu hingga
menyerupai bola kemudian mereka berdiri dan bermain perang-perangan dengan
melempar bola pertanyaan. Kemudian setelah perang mereka mengambil bola
pertanyan dan boleh menunjuk siapa saja untuk menjawab pertanyan. Guru dan
siswa yang lain dapat mengomentari bila perlu.
6. Tumpukan
kartu (pertanyaan) di atas meja
Bagikan
kartu kosong kepada para siswa yang duduk berlima atau berenam per-meja.
Mintalah setiap siswa menuliskan pertanyaan pada kartu lalu kocok dan bagikan
kartu secara tertelungkup. Lalu jawab pertanyaan, pertanyaan yang tidak bisa di
jawab oleh kelompok diletakkan ditengah meja dan ditanyakan kepada seluruh
siswa dikelas pada akhir pertanyaan.
7. Pertanyaan
musikal
Siswa
disuruh membuat satu pertanyaan lalu semua berdiri membentuk lingkaran.mainkan
musik dan edarkan kartu pertanyaan setelah musik berhenti lalu beri waktu untuk
menjawab apabila tidak bisa menjawab maka boleh di bantu oleh yang lainnya.
8. Lingkaran
pertanyaan kentang panas
Mintalah
semua orang berdiri dan membentuk
lingkaran. Dapat diguakan kentang sungguhan yang berisi pertanyaan.
Untuk memancing, guru dapat memberi setiap orang dalam sebuah kartu berisi
pertanyaan yang dapat ditanyakan ketika giliran mereka tiba.
9. Tukar
menukar pertanyaan antartim
Pertim
disuruh membuat pertanyaan 10-20 pertanyaan dan apabila pertim tersebut
berhasil menjawab pertanyaan maka akan diberikan hadiah.
10. Lemparan
pertanyaan
Bagilah
kelas menjadi dua tim. Mintalah setiap tim menyusun 10 atau 20 pertanyaan
mengenai materi pelajaran untuk tim lawan. Lalu, mintalah kedua tim berdiri dan
saling melemparkan pertanyaan satu demi satu. Jika satu tim dapat menjawab
pertanyaan dalam waktu yang telah ditentukan mereka mendapat nilai.
11. Tanyailah
sobatmu
Pada
pertengahan atau akhir presentasi, kelompokkan siswa berpasangan. Mintalah
pasangan itu saling mengajukan lima peranyaan mengenai bahan pelajaran kepada
mitranya baik pertanyaan yang mereka ketahui maupun yang tidak. Jika kedua
belah pihak tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan, mereka menanyakan
pertanyaan tersebut kepada seluruh kelompok pada akhir pelatihan.
12. Edarkan
topi
Mintalah
setiap orang menuliskan pertanyaan, satu atau lebih, pada sebuah kartu dan
menaruhnya dalam topi. Lalu, minta seluruh siswa mengambil pertanyaan dari topi
dan membaca didepan kelas . orang pertama yang dapat menjawab dengan benar
mendapat nilai atau hadiah ringan berupa kacang, permen, gula-gula, kuaci, dan
lain-lain. Guru hanya menjawab pertanyaan yang tidak dapat dijawab siswa.
C. Tanggung jawab guru dalam
memfasilitasi pembelajaran
Tanggung
jawab seorang guru ditangannya harus tercipta manusia-manusia yang berbudi
luhur, berperilaku baik, berprestasi, berkualitas, dan berakhlak mulia. Maka
guru harus memiliki seperangkat kapabilitas sebagai berikut:
v Guru
harus memiliki tanggung jawab sempurna dan mengerti pekerjaannya dengan jelas.
v Guru
harus seorang yang memiliki kualifikasi dan kapabilitas untuk mengerjakan tugas
pembelajaran.
v Guru
harus memiliki kewenangan yang cukupuntuk menyelesaikan pekerjaannya dalam
pembelajaran.
D. Beberapa prinsip yang perlu
mendapatkan perhatian dalam pembelajaran
Yang
perlu dilakukan oleh para guru dalam melaksanakan pembelajaran adalah sebagai
berikut:
a. Persiapan
pra-belajar
Siswa
harus mendapatkan kepuasan belajar yang menjadi prasyarat untuk materi pokok
yang akan dipelajari.
b. Dorongan
(Motivasi)
Perhatian
siswa akan besar jika tugas belajar itu mempunyai nilai pribadi atau minat
untuk mempelajari besar.
c. Perbedaan
perorangan
Siswa
belajar dengan kecepatan yang berbeda-beda dalam merespon, ada yang cepat dan
ada pula yang lambat.
d. Kondisi
pembelajaran
Belajar
berhasil lebih mudah diperoleh jika kompetensi dasar jelas rumusannya, kegiatan
belajar diurutkan sehubungan dengan kompetensi dasar itu.
e. Partisipasi
aktif
Belajar
haru dilakukan sendiri oleh siswa dan bukan oleh guru melalui cara penyabaran.
f. Prestasi
yang berhasil
Belajar
haruslah terstruktur sehingga siswa merasa tertantang secara mental dan
berupaya berhasil dalam belajar.
g. Praktik
Menyajikan
kesempatan kepada siswa untuk menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang
telah diperoleh dalam banyak situasi.
h. Mengetahui
hasilnya
Minat
belajar siswa akan bertambah, jika hasil belajarnya diberitahu kepada mereka.
(hasil ujian, diskusi informal, latihan mengecek sendiri).
i. Kecepatan
menyajikan materi
Kecepatan
dan jumlah bahan yang harus dipelajari suatu saat atau dalam suatu pelajaran,
hendaknya ada kaitannya dengan tingkat kesukaran dan keruwetan bahan yang dapat
dinyatakan dalam kecakapan siswa.
j. Sikap
guru
Dalam
mengkomunikasi pembelajaran kepada siswa, peran guru sangat menentukan, yaitu
terampil dalam berkomunikasi, bersikap lugas, cerdas, berwibawa, mengayomi, dan
memberi dorongan kepda siswa, disamping itu guru memiliki pengetahuan yang
banyak dan tidak tua semalam dari siswa, memiliki jiwa sosial budaya.
E. Jenis-jenis perbedaan individual
Ø Kecerdasan
Ø Bakat
(aptitude)
Ø Keadaan
jasmani (physical fitness)
Ø Penyesuaian
sosial dan emosional
Ø Keadaan
keluarga ( home backround)
Ø Prestasi
belajar (academic achievement)
F. Pelayanan terhadap perbedaan
individual
Sebagaimana
yang telah dipapar diatas tentang jenis-jenis perbedaan individual dengan
ciri-cirinya, maka perbedaan itu akan bermakna manakala mendapat pelayanan yang
optimal dari tenaga pendidik, dan peserta didik mendapat kesempatan
mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.
G. Ukuran kelas yang ideal
Suatu
permasalahan yang dihadapi lembaga pendidikan diindonesia yang belum
terpecahkan adalah besar kelas. Pada umumnya sekolah-sekolah memiliki
kelas-kelas yang berukuran besar yang dapat menampung siswa dalam jumlah yang
banyak, hal ini dapat dijumpai disekolah-sekolahnegeri atau sekolah swasta yang
favorit, menerima jumlah siswa yang banyak setiap tahun sudah menjadi fenomena,
walaupun sudah dibuat batasan bahwa setiap sekolah menerima siswa baru
rata-rata 40 orang per-kelas, batasan ini suatu hal yang tidak dapat
disepakati, ketika tahun ajaran baru dimulai satu persatu siswa masuk tanpa
penyaringan dan seleksi, alasan kelas masih dapat menampung beberapa siswa,
kelas semula menampung 40 siswa menjadi 45 siswa. Jumlah siswa yang banyak
dalam kelas yang besar sudah menjadi trend sekolah-sekolah. Secara psikologis
guru akan sulit memberi pembeljaran yang optimal terhadap jumlah siswa yang
banyak, akibat dari itu interaksi tidak sempurna, sulit bagi guru mengelola
kelas, sulit mengontrol kecakapan siswa, kurangnya partisipasi masing-masing
individudalam pembelajaran, dan sulit mencapai tujuan pembelajaran.
Ukuran
kelas optimal harus dihubungkan dengan sifat tujuan belajar yang akan dicapai.
Data penelitian menentukan ada tiga ketentuan yang dapat di buat:
1) Bila
tujuan kognitif tingkat rendah dan tujuan efektif akan dicapai, kelas besar
tidaklah lebih buruk daripada kelas kecil.
2) Bila
tujuan kognitif tingkat tinggi dan tujuan efektif ingin dicapai, kelas-kelas
kecil beranggotakan 5 atau 7 siswa adalah ukuran optimal.
3) Bila
yang ingin dicapai adalah tujuan kognitif tingkat tinggi (sintesis dan
evaluasi) dan tujuan efektif (karakterisasi), maka tutorial satu lawan satu
bukan lebih baik dari pada kelas kecil.
Bagaimanapun
juga, Graicunas telah menunjukkan dengan efektif majemuknya pengelolaan atau
lebih dari selusin siswa, dan mempertegas masalah-masalah yang berhubungan
dengan bertambah besarnya kelas.